Ini bukan cerita cinta saya. Sengaja ku-blog untuk mengenangkannya, sempena hari ulangtahunnya hari ini. Dia tidak tahu aku menulisnya. Jika dia terbaca, mungkin dia akan menangis. Menatap ceritera hidupnya tertulis di depan mata.
Akan kukatakan ia kebetulan saja.
Dia, telah lama kehilangan cinta. Selama ini, puas juga mencari cinta sejati tetapi tidak pernah bertemu orang yang punyai kehendak yang sama. Pada cinta mungkin iya, tapi untuk dirinya tidak. Seperti biasa, terkadang kita kita menginginkan seseorang sedang ia tidak. Terkadang kita diinginkan, tapi hati kita menolaknya. Seringkali pula, cinta muncul tapi ianya TERLARANG.
Jodoh itu, perasaan cinta itu urusan yang maha kuasa.
Akhirnya.
Setelah sekian lama merindukan untuk dicintai, dia bertemu seseorang. Cerita hati mereka hanya mereka yang tahu. Kita tidak bisa menebak. Mengintai kejujuran pasangan saat meluahkan cinta bukan lah mudah kerana sudah tentulah mereka hanya memaparkan yang terbaik. Banyaklah petua yang disarankan bagaimana periksadaridalam pasangan mu sebelum mengikatjanji atau menyerahkan jiwaraga, namun disaat hati sedang dilamun angau, akal tidak lagi relevant. Malahan menjadi musuh.
Maka terjalinlah cinta. Dengan orang seberang yang ditemui ketika liburan. Saking hebatnya perasaan yang membara, mereka ingin diijabkabul secepatnya.
Semua merasakan ia terburu-buru. Tapi pemunya hati merasa kini sampai masanya. Sudah terlalu lama hidup dan hati kesepian. Siapa dapat mengerti kekosongan hidup berpuluh tahun mengharungi hidup sendirian setelah gagal rumahtangga dulu?
Aku hanya mengharapkan hadirnya menemani ku katanya. Aku perempuan yang biasa hidup berdikari. Berpuluh tahun menghidupi diri dan anak, daripada tiada hingga kini dipuncak kerjaya yang lumayan terhormat. Aku bukan mencari orang yang dapat menyokongku dari segi materi. Aku punya. Aku kini mampu. Aku bukan muda lagi tapi salahkah aku mempunyai perasaan cinta? Haruskah aku menolak perasaan itu hanya kerana lukisan takdir yang mencorakkan hidupku begini?
Aku sendiri tiada jawapan. Jika diturutkan akal, memang terburu-buru menikah bukan tindakan terbijak. Tapi agama sendiri bukan kah menganjurkan untuk "akadnikah" jika hati sudah suka? untuk menghalang keterlanjuran yang dilarang.
Tapi....... kami semua berkata begitu.
Tapi dia berbuat sebaliknya.
........ bersambung
No comments:
Post a Comment